Perang Memanas, Pasar Kripto Mendingin: XRP, Bitcoin, dan Altcoin Tertekan Gelombang Risk-Off
Ketika konflik geopolitik memanas dan volatilitas energi melonjak, pasar kripto justru menunjukkan reaksi sebaliknya: mendingin dan tertekan. Pada Senin (2 Maret), gelombang risk-off global menjalar ke aset digital, mendorong investor mengurangi eksposur terhadap instrumen berisiko tinggi. Dalam fase defensif seperti ini, kripto kembali diposisikan sebagai risk asset, bukan safe haven.
Ripple (XRP) bertahan di area bawah dan tetap berada di bawah tekanan jual. Harga diperdagangkan di sekitar $1,34, turun sekitar 3,6% dalam sehari, dengan rentang harian $1,34–$1,40. Tekanan terhadap XRP bermula dari aksi jual akhir pekan yang sempat menyeret harga ke level terendah sebelum terjadi rebound teknikal singkat. Namun, pemulihan tersebut tampak rapuh karena pasar masih meyakini bahwa eskalasi konflik geopolitik dapat menekan selera risiko lebih lama dari perkiraan.
Sejumlah analis menyoroti meningkatnya sinyal “risk-off move” yang berpotensi memicu gelombang jual lanjutan di altcoin. Dalam kondisi ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih likuid dan defensif seperti dolar AS atau obligasi pemerintah, bukan ke kripto yang volatilitasnya tinggi. Akibatnya, tekanan tidak hanya terfokus pada XRP, tetapi meluas ke seluruh pasar.
Bitcoin (BTC) turun ke sekitar $65.414 atau melemah 2,4% secara harian, sementara Ethereum (ETH) berada di kisaran $1.926,81, terkoreksi 4,1% dalam sehari. Solana (SOL) juga melemah ke level $83,01. Penurunan serentak ini mempertegas bahwa sentimen global, bukan faktor fundamental internal kripto semata, menjadi pendorong utama pergerakan harga saat ini.
Secara makro, ketika pasar memasuki mode defensif, arus modal cenderung keluar dari aset spekulatif. Lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi memperkuat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi atau bertahan lebih lama, sehingga meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan kripto yang tidak menghasilkan imbal hasil intrinsik. Dalam konteks ini, reli kripto membutuhkan sentimen risiko yang membaik—sesuatu yang sulit terwujud selama headline geopolitik masih mendominasi.
Gambaran besarnya jelas: selama ketegangan geopolitik dan lonjakan energi menjadi tema utama pasar global, ruang pemulihan kripto cenderung terbatas. Pergerakan harga akan sangat reaktif terhadap berita terbaru, menciptakan volatilitas tinggi namun dengan bias defensif. Bagi pelaku pasar, manajemen risiko menjadi kunci, karena dinamika headline dapat dengan cepat mengubah arah sentimen dalam hitungan jam.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar