Emas Meroket ke Rekor Baru di Atas $3.800, Didorong Dolar Melemah dan Risiko Penutupan Pemerintahan AS

Harga emas melonjak tajam menembus rekor tertinggi baru di atas $3.800 per ons pada Senin, seiring reli komoditas logam mulia yang didorong oleh pelemahan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat (government shutdown).

Harga emas naik hingga 2% ke level tertinggi sepanjang masa di $3.833,59 per ons, melampaui rekor pekan sebelumnya setelah mencatat enam kenaikan mingguan berturut-turut. Perak turut menguat hingga 2,4%, sementara platinum dan paladium juga reli kuat, ditopang oleh kondisi pasar yang ketat serta meningkatnya aliran dana ke reksa dana berbasis logam mulia (ETF).

Dolar AS melemah karena investor menunggu hasil pertemuan antara para pemimpin Kongres dan Presiden Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung Senin malam, sehari sebelum tenggat pendanaan federal berakhir tanpa kesepakatan anggaran sementara. Jika terjadi penutupan pemerintahan, publikasi sejumlah data ekonomi penting — termasuk laporan ketenagakerjaan pada Jumat mendatang — berpotensi tertunda. Ekspektasi terhadap pertumbuhan lapangan kerja yang lemah pada September memperbesar peluang pelemahan dolar, yang secara otomatis membuat logam mulia menjadi lebih murah bagi pembeli global.

Data ketenagakerjaan yang lebih lemah juga akan memperkuat argumentasi bagi pejabat Federal Reserve untuk memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan Oktober. Lingkungan suku bunga rendah cenderung menguntungkan emas karena logam ini tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Namun, ketidakpastian masih tinggi karena pejabat The Fed menyampaikan pandangan yang berbeda terkait arah kebijakan moneter, sementara sebagian data ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dari perkiraan.

Menurut analis strategi Barclays Plc, Themistoklis Fiotakis dan Lefteris Farmakis, harga emas saat ini tidak tampak terlalu mahal dibandingkan dengan dolar dan imbal hasil obligasi AS. Mereka menilai emas masih mengandung “premi risiko The Fed” yang mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi berkurangnya independensi bank sentral AS. “Hal ini menjadikan emas sebagai lindung nilai yang bernilai baik,” tulis mereka dalam laporan akhir pekan.

Sejak awal tahun, emas telah melesat 46% dan secara konsisten mencetak rekor baru, didorong oleh lonjakan pembelian bank sentral dan dimulainya kembali siklus pemangkasan suku bunga The Fed. Harga emas kini berada di jalur untuk menutup kuartal ketiga berturut-turut dengan kenaikan, sementara kepemilikan emas di ETF telah mencapai level tertinggi sejak 2022. Beberapa bank besar seperti Goldman Sachs dan Deutsche Bank memperkirakan reli emas ini masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan paladium juga menghadapi kondisi pasar yang sangat ketat. Kekurangan pasokan yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir kini mencapai puncaknya, menimbulkan kekhawatiran terhadap menipisnya stok logam bebas di pasar London. Tingkat sewa (lease rate) — yang mencerminkan biaya meminjam logam untuk jangka pendek — melonjak tajam jauh di atas kisaran normal mendekati nol, menandakan permintaan fisik yang sangat tinggi.

Ketegangan pasar semakin diperburuk oleh kekhawatiran bahwa logam dari kelompok platinum (platinum-group metals) dapat masuk dalam penyelidikan Trump terkait Pasal 232 mengenai mineral strategis. Analis Citigroup yang dipimpin Max Layton menilai peluang meningkatnya tarif impor AS terhadap paladium cukup besar, dengan hasil tinjauan resmi yang diperkirakan diumumkan pada Oktober.

Pada perdagangan New York pukul 13.56 waktu setempat, harga emas spot tercatat naik 1,8% menjadi $3.828,67 per ons, sementara Indeks Dolar Bloomberg turun 0,2%. Perak melonjak ke level tertinggi sejak 2011 di $46,87 per ons setelah sempat menembus $45 pekan lalu — tertinggi dalam 14 tahun. Platinum naik 0,9% ke $1.595,45 per ons setelah sempat melampaui $1.600 untuk pertama kalinya sejak 2013, sedangkan paladium sempat menguat 2,9% sebelum akhirnya terkoreksi 0,8%.

Kenaikan harga emas yang luar biasa ini mempertegas posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi AS. Dengan kombinasi faktor berupa dolar yang melemah, risiko shutdown, dan arah kebijakan moneter yang longgar, logam mulia diperkirakan akan terus menjadi magnet bagi investor global yang mencari stabilitas di tengah gejolak pasar.





Source : Bloomberg.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini