Efek “Warsh”? Emas dan Perak Mendadak Kacau, Pasar Logam Mulia Diguncang Guncangan Bersejarah
Pasar logam mulia mengalami pembalikan ekstrem pada Jumat, 30 Januari, dalam sebuah pergerakan yang jauh melampaui koreksi biasa. Setelah reli agresif yang dinilai “irasional” dan mendorong harga ke rekor tertinggi, emas anjlok paling dalam dalam beberapa dekade terakhir, sementara perak mencatat penurunan intraday terbesar sepanjang sejarah. Kejatuhan ini datang seperti kejutan mendadak bagi pasar yang sebelumnya terlalu nyaman dengan tren naik.
Harga emas sempat merosot lebih dari 12% dan menembus ke bawah level psikologis USD 5.000 per troy ounce, menandai penurunan harian terdalam sejak awal 1980-an. Perak bahkan runtuh lebih dari 36% dalam satu sesi perdagangan. Dampaknya merembet luas ke pasar komoditas lain: tembaga di London Metal Exchange turun sekitar 3% lebih setelah sebelumnya mencetak rekor. Pada saat yang sama, dolar AS menguat tajam, membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar dan langsung menekan sentimen.
Kerentanan pasar sebenarnya telah terlihat sejak lama, terutama dari sisi kepadatan posisi (position congestion). Selama setahun terakhir, investor berbondong-bondong masuk ke emas dan perak sebagai lindung nilai terhadap depresiasi mata uang, isu independensi Federal Reserve, perang dagang, serta ketegangan geopolitik global. Memasuki Januari, pergerakan harga menjadi parabolik, volatilitas melonjak, dan pasar berada dalam kondisi terlalu panas—cukup satu pemicu kecil untuk menekan tombol jual secara massal.
Pemicu tersebut akhirnya datang dari penguatan tajam dolar AS setelah muncul kabar—yang kemudian dikonfirmasi—bahwa pemerintahan Donald Trump tengah menyiapkan Kevin Warsh sebagai kandidat pengganti Jerome Powell di Federal Reserve. Narasi pasar yang sebelumnya meyakini Trump akan membiarkan dolar melemah langsung ter-reset. Reaksi yang terjadi pun instan: aksi ambil untung besar-besaran. Kondisi ini diperparah oleh sinyal teknikal, di mana indikator RSI emas dilaporkan berada di level ekstrem alias sangat overbought, sehingga koreksi besar sebenarnya hanya menunggu waktu dan katalis.
Begitu aksi jual dimulai, efek domino tak terhindarkan. Saham-saham perusahaan tambang ikut tertekan tajam. Nama-nama besar seperti Newmont, Barrick Mining, dan Agnico Eagle Mines mencatat penurunan signifikan. Pelaku pasar bahkan mengakui bahwa level psikologis USD 5.000 untuk emas dan USD 100 untuk perak ditembus bolak-balik dalam waktu singkat—sebuah ciri khas pasar yang liar dan tidak stabil. Heraeus Precious Metals memperingatkan bahwa volatilitas belum tentu mereda, menegaskan bahwa pasar logam mulia kini memasuki fase yang menuntut kewaspadaan ekstra.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar