Dolar AS Melemah Jelang Data Tenaga Kerja, Aussie Menguat Didukung Sikap Hawkish RBA
Dolar AS kembali tertekan terhadap mayoritas mata uang utama Group-of-10 (G10) seiring investor menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang tertunda namun krusial. Pelemahan ini terjadi setelah data penjualan ritel yang mengecewakan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mengambil sikap lebih dovish dalam kebijakan moneternya tahun ini.
Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat turun 0,2%, memperpanjang pelemahan menjadi empat hari berturut-turut. Pada sesi sebelumnya, indeks ini sudah bergerak melemah setelah data penjualan ritel Desember menunjukkan stagnasi tak terduga. Kondisi tersebut kembali memicu spekulasi bahwa The Fed berpotensi melakukan pemangkasan suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini, terutama jika perlambatan ekonomi semakin terlihat pada data tenaga kerja.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan bernada defensif dari pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump terkait kondisi pasar tenaga kerja. Komentar tersebut dinilai meredam ekspektasi optimistis terhadap kekuatan ekonomi AS. Menurut Richard Franulovich, Kepala Strategi Valuta Asing di Westpac, kombinasi menjelang rilis data tenaga kerja Januari dan meningkatnya kembali isu geopolitik seperti Greenland dan Iran membuat pasar berada dalam kondisi tidak menentu. Ketidakpastian ini mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap dolar AS untuk sementara waktu.
Di pasar mata uang komoditas, dolar Australia (AUD) mencatat penguatan signifikan. Pasangan AUD/USD memperpanjang kenaikan intraday hingga 0,63% ke level 0,7119. Penguatan ini terjadi setelah Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA), Andrew Hauser, menyatakan bahwa tingkat inflasi saat ini masih terlalu tinggi. Pernyataan tersebut dipersepsikan sebagai sinyal kebijakan yang cenderung hawkish, sehingga mendukung kenaikan imbal hasil obligasi tenor tiga tahun yang sempat memangkas penurunan intraday setelah komentarnya.
Sementara itu, pasangan USD/JPY turun 0,5% ke level 153,63, mencerminkan pelemahan dolar terhadap yen Jepang. Namun, perdagangan tunai obligasi pemerintah AS (Treasuries) tidak berlangsung di sesi Asia karena libur nasional di Jepang. Kontrak berjangka obligasi AS tenor 10 tahun relatif stabil di 112 17/32, setelah imbal hasil 10 tahun turun 6 basis poin ke 4,14% pada sesi sebelumnya akibat rilis data penjualan ritel yang lebih lemah dari ekspektasi.
Secara keseluruhan, pelemahan dolar AS saat ini didorong oleh kombinasi data ekonomi yang mengecewakan dan meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Fokus utama pasar kini tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls, yang akan menjadi penentu arah selanjutnya bagi dolar, imbal hasil obligasi, dan dinamika pasar global. Jika data tenaga kerja kembali menunjukkan pelemahan, tekanan terhadap dolar berpotensi berlanjut, sementara mata uang berisiko seperti dolar Australia dapat mempertahankan momentum penguatannya.
Source : Bloomberg.com
Komentar
Posting Komentar