Sentimen Risk-On Kembali, Pasar Kripto Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS
Pasar kripto pada sesi perdagangan Eropa hari Senin bergerak bervariasi namun cenderung menguat, seiring melemahnya dolar AS dan meningkatnya minat risiko investor global. Pelemahan greenback mendorong pelaku pasar untuk kembali menilai prospek kebijakan suku bunga Amerika Serikat, terutama menjelang rilis data inflasi yang sangat dinantikan pekan ini. Lingkungan likuiditas yang mulai longgar kembali membuka ruang bagi aset berisiko, termasuk kripto, untuk mencatatkan penguatan moderat.
Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$90.765 setelah sempat menyentuh puncak intraday di US$92.369. Pergerakan ini mencerminkan euforia singkat yang dengan cepat diikuti oleh sikap hati-hati dari investor. Aksi ambil untung di level tinggi menunjukkan bahwa meskipun sentimen risk-on mulai kembali, pasar belum sepenuhnya yakin untuk mendorong reli agresif tanpa konfirmasi kuat dari faktor fundamental makroekonomi.
Ethereum (ETH) turut mencatatkan penguatan dan bergerak di sekitar US$3.116,9. Kenaikan ini didorong oleh sentimen “liquidity trade”, di mana pasar masih melihat peluang pemangkasan suku bunga AS sebagai skenario yang memungkinkan, meskipun waktunya berpotensi mundur. Harapan terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif menjaga minat terhadap Ethereum, terutama sebagai aset yang sensitif terhadap arus likuiditas global.
Di segmen altcoin, pergerakan pasar terlihat semakin selektif. Solana (SOL) menguat ke level US$139,73 dengan momentum yang relatif lebih agresif, mencerminkan minat spekulatif yang kembali masuk pada aset berbeta tinggi. Sebaliknya, XRP justru melemah ke sekitar US$2,05, menandakan bahwa rotasi risk-on belum merata di seluruh pasar kripto. Investor tampak lebih memilih aset dengan katalis teknikal dan likuiditas yang lebih kuat.
Pendorong makro utama pada sesi ini adalah melemahnya dolar AS, yang dipicu oleh kembali munculnya kekhawatiran pasar terkait risiko institusional dan independensi Federal Reserve. Secara historis, ketika dolar melemah, aset berisiko seperti kripto cenderung mendapatkan dukungan akibat meningkatnya likuiditas dan selera spekulasi. Kondisi ini menjadi fondasi utama bagi penguatan kripto dalam jangka pendek.
Meski demikian, pasar kripto belum bergerak dengan kecepatan penuh. Investor saat ini dihadapkan pada “tembok data” berupa rilis inflasi Amerika Serikat yang berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga. Jika inflasi kembali meningkat, imbal hasil obligasi bisa naik dan menekan aset kripto, membuka risiko koreksi. Sebaliknya, jika inflasi melandai, ruang bagi reli lanjutan akan terbuka lebih lebar.
Secara keseluruhan, sesi Eropa hari ini mencerminkan pemulihan yang masih rapuh. Dukungan datang dari pelemahan dolar AS dan membaiknya sentimen risiko, namun arah pasar selanjutnya sangat bergantung pada data inflasi dan dinamika politik-makro yang mampu mengubah sentimen hanya dalam hitungan menit.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar