Dolar AS Terpuruk Sepekan, Yen Tertekan Jelang Keputusan Bank of Japan


Nilai tukar dolar Amerika Serikat mengalami tekanan hebat dan mencatat penurunan mingguan terburuk dalam satu tahun terakhir. Gejolak ini dipicu oleh ketidakpastian kebijakan setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman terkait Greenland, lalu secara tiba-tiba membalikkan sikapnya. Langkah yang tidak konsisten tersebut mengguncang kepercayaan pasar dan mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar, mempercepat arus keluar dari mata uang AS.

Indeks dolar tercatat bergerak di kisaran 98,329 setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya, dan kini diperkirakan melemah sekitar 1% sepanjang pekan. Jika terealisasi, ini akan menjadi performa mingguan terburuk sejak Januari 2025. Di sisi lain, euro bertahan di sekitar USD 1,1751, mendekati level tertinggi tiga pekan, sementara pound sterling stabil di kisaran USD 1,3496, mendekati puncak dua pekan. Pergerakan ini mencerminkan melemahnya daya tarik dolar di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan kebijakan AS.

Di kawasan Asia, perhatian pasar tertuju pada pergerakan yen Jepang yang terus melemah menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan. BOJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga setelah menaikkannya ke level tertinggi dalam 30 tahun pada bulan lalu. Namun, pelaku pasar menanti sinyal dari Gubernur Kazuo Ueda terkait waktu kenaikan suku bunga berikutnya serta seberapa hawkish arah kebijakan moneter ke depan. Nada pernyataan BOJ dinilai krusial dalam menentukan arah yen dalam jangka pendek.

Yen saat ini berada di bawah tekanan, diperdagangkan di sekitar 158,50 per dolar AS, dan berpotensi mencatat penurunan mingguan keempat secara beruntun. Kekhawatiran pasar meningkat jika yen menembus level psikologis 160, yang dapat memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Risiko ini semakin besar di tengah meningkatnya kekhawatiran fiskal, setelah perdana menteri baru memenangkan pemilu kilat dan menjanjikan pemotongan pajak yang berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Sementara itu, dolar Australia bergerak relatif stabil di sekitar USD 0,6841, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap dinamika global. Dolar Selandia Baru melemah tipis ke kisaran USD 0,5914, sejalan dengan sentimen regional yang masih berhati-hati. Di pasar kripto, Bitcoin menguat ke area USD 89.518, perlahan menjauh dari level terendah pekan ini. Penguatan tersebut menunjukkan investor mulai melakukan reposisi portofolio di tengah ketidakpastian global, menjadikan aset digital sebagai alternatif diversifikasi di luar pasar keuangan tradisional.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini