Perak Mendekati Rekor Tertinggi, Apa yang Menggerakkan Reli Logam Mulia?


Harga perak tetap stabil di dekat rekor tertingginya setelah melonjak sekitar 17% dalam tujuh sesi terakhir. Reli tajam ini dipicu ekspektasi pasar bahwa suku bunga Amerika Serikat akan segera turun—sebuah katalis klasik yang kerap mengangkat harga logam mulia. Di sisi lain, harga emas bergerak datar setelah dua hari penurunan, menggambarkan pasar yang menahan napas menunggu arah kebijakan moneter terbaru dari Federal Reserve.

Fokus investor kini tertuju pada kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Ketua The Fed yang baru serta rilis data ekonomi AS sepanjang bulan ini. Suku bunga yang lebih rendah membuat emas dan perak semakin menarik karena keduanya tidak memberikan imbal hasil, sehingga biaya peluang menahan logam mulia menjadi lebih rendah. Kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir juga didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter setelah berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang—sebuah momen yang dipandang pasar sebagai babak baru dalam siklus kebijakan suku bunga.

Selain faktor suku bunga, ketatnya pasokan perak global turut menopang penguatan harga. Volume perak yang masuk ke London mencapai rekor tertinggi bulan lalu, sementara persediaan perak di gudang yang terhubung dengan Shanghai Futures Exchange merosot ke titik terendah dalam satu dekade. Ketidakseimbangan antara permintaan industri dan pasokan fisik menambah dorongan bagi reli yang sedang berlangsung. Perak bertahan di US$58,47 per ounce setelah menyentuh rekor US$58,84, sementara harga platinum dan paladium justru melemah, menandakan investor lebih memilih logam mulia dengan prospek fundamental yang lebih solid.

Dalam lanskap pasar yang penuh dinamika, perak kini berdiri di garis depan reli logam mulia—ditopang ekspektasi pelonggaran moneter, pasokan yang menipis, dan antisipasi investor terhadap arah baru kebijakan The Fed.


Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini