Harga Minyak Naik di Tengah Konflik Global, Pasar Terjepit Risiko Geopolitik dan Oversupply
Harga minyak global tetap bertahan di level tinggi meskipun kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan terus membayangi pasar. Fokus pelaku pasar kini lebih tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik, mulai dari Amerika Latin hingga Timur Tengah dan Eropa Timur, yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi ini membuat pasar minyak bergerak dengan sikap waspada, meskipun secara tren tahunan harga minyak masih mencerminkan tekanan pelemahan.
Dari Amerika Latin, Venezuela dilaporkan mulai menutup sejumlah sumur minyak di wilayah dengan cadangan terbesar dunia akibat blokade Amerika Serikat. Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim negaranya telah menyerang salah satu fasilitas di negara tersebut. Ketegangan geopolitik ini menambah risiko pasokan dari kawasan yang selama ini menjadi salah satu penopang produksi minyak global, sekaligus meningkatkan sensitivitas harga terhadap perkembangan politik.
Di Eropa Timur, eskalasi konflik kembali menjadi sorotan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan akan mengubah sikap negosiasinya terkait perang Ukraina, menyusul dugaan serangan drone terhadap kediamannya. Di saat yang sama, Trump juga kembali melontarkan ancaman untuk menyerang Iran apabila negara tersebut melanjutkan program nuklirnya. Kombinasi ketegangan Rusia-Ukraina dan potensi konflik baru di Timur Tengah menciptakan premi risiko geopolitik yang signifikan di pasar minyak.
Namun, di luar isu geopolitik, pasar minyak tetap dibayangi kekhawatiran fundamental mengenai kelebihan pasokan global. OPEC+ diketahui meningkatkan produksi dengan tujuan merebut kembali pangsa pasar, sebuah langkah yang justru memperkuat narasi bahwa pasokan berpotensi melampaui pertumbuhan permintaan. Data terbaru menunjukkan jumlah minyak mentah yang disimpan di tanker-tanker di seluruh dunia melonjak sekitar 15% dalam sepekan terakhir, mendekati level tertinggi sejak 2020. Lonjakan stok terapung ini menjadi sinyal bahwa pasar masih bergulat dengan surplus pasokan yang signifikan.
Dari sisi harga, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari diperdagangkan di kisaran US$57 per barel, sementara Brent berada di bawah US$62 per barel. Penguatan harga dalam beberapa hari terakhir mencerminkan dominasi sentimen geopolitik, namun prospek ke depan masih sangat bergantung pada tarik-menarik antara risiko konflik global dan realitas kelebihan pasokan minyak dunia. Selama ketidakseimbangan ini belum menemukan titik temu, volatilitas diperkirakan tetap menjadi ciri utama pergerakan harga minyak.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar