Dolar AS Anjlok ke Level Terendah Tahun Ini di Tengah Ketidakpastian Tarif Dagang
Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali melemah tajam, mencatat penurunan untuk hari kelima berturut-turut seiring meningkatnya kekhawatiran pasar atas ketegangan dagang yang belum mereda. Para pelaku pasar mengabaikan penangguhan sebagian tarif pada produk elektronik, setelah Presiden Donald Trump menegaskan bahwa kebijakan tarif terhadap sektor teknologi belum sepenuhnya dicabut.
Bloomberg Dollar Spot Index turun hingga 0,4% pada perdagangan Senin, melanjutkan pelemahan sebesar 2,4% yang terjadi pekan sebelumnya. Secara keseluruhan, indeks dolar telah merosot hampir 6% sepanjang tahun ini dan kini berada di level terendah sejak Oktober. Tekanan terhadap dolar meningkat akibat meningkatnya tensi dagang AS–Tiongkok dan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika akan melambat dalam beberapa bulan mendatang.
Pelemahan dolar semakin dalam setelah Trump, melalui unggahan di media sosial pada Minggu malam, menyatakan bahwa dirinya tetap akan memberlakukan tarif pada ponsel, komputer, dan produk elektronik populer lainnya. Ia menepis anggapan bahwa penangguhan tarif sebelumnya merupakan langkah pelonggaran kebijakan. “TIDAK ADA yang ‘dibebaskan’,” tulis Trump, menegaskan bahwa kebijakan tarif merupakan bagian dari strategi besar untuk merombak sistem perdagangan AS.
Menurut Dane Cekov, Senior Strategist di Sparebank 1 Markets AS, penguatan dolar AS hanya dapat terjadi apabila perang dagang diselesaikan dengan cepat dan damai. “Tanpa penyelesaian tersebut, dampak tarif terhadap konsumsi, inflasi, dan pasar tenaga kerja akan semakin nyata dan berpotensi menekan dolar dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya. Survei Bloomberg menunjukkan hampir 80% responden memperkirakan dolar akan terus melemah dalam sebulan ke depan — tingkat pesimisme tertinggi sejak 2022.
Volatilitas dolar juga meningkat mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan bahwa para spekulan memperbesar posisi jual terhadap dolar hingga pekan yang berakhir 8 April. Sementara itu, pejabat Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menepis ekspektasi bahwa The Fed akan melakukan intervensi untuk menstabilkan pasar, menyebut bahwa bank sentral “tidak memiliki kapasitas untuk mengendalikan apa yang kini menjadi normal baru di Amerika.”
Bank-bank besar di Wall Street juga memperkirakan potensi pelemahan lanjutan bagi dolar seiring dampak tarif perdagangan yang semakin terasa pada ekonomi dan pasar keuangan. JPMorgan Chase & Co. menilai investor cenderung tetap bearish terhadap dolar, terutama terhadap yen dan euro, di tengah risiko resesi AS yang masih tinggi. Mizuho Bank Ltd. bahkan memproyeksikan dolar bisa jatuh hingga 5% lagi secara trade-weighted sebelum berbalik naik, merujuk pada pola serupa yang terjadi pada periode 2017–2018 dan masa pandemi.
Dalam laporan terpisah, analis Goldman Sachs Group Inc. menulis bahwa rancangan dan penerapan tarif baru bersifat negatif bagi dolar karena memperlemah kepercayaan konsumen dan dunia usaha. “Jika kebijakan tarif menekan margin laba perusahaan serta daya beli masyarakat AS, hal ini akan mengikis keunggulan ekonomi Amerika dan sekaligus menghantam fondasi utama kekuatan dolar,” jelas mereka.
Permintaan terhadap instrumen lindung nilai (hedging) terhadap potensi pelemahan dolar kini melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun. Indeks yang mengukur risk reversals tiga bulan — selisih antara opsi beli dan opsi jual dolar terhadap 12 mata uang utama — telah turun ke titik terendah sejak puncak krisis pandemi global pada Maret 2020, menurut data Bloomberg.
Kondisi ini menandakan bahwa kepercayaan pasar terhadap dolar semakin rapuh di tengah ketidakpastian kebijakan tarif pemerintahan Trump. Tanpa kepastian arah kebijakan perdagangan dan langkah nyata untuk memulihkan kepercayaan investor, dolar berpotensi melanjutkan tren pelemahan dalam waktu dekat.
Source: Bloomberg
Komentar
Posting Komentar