Bursa Asia Anjlok Menjelang Tenggat Tarif Trump, Kekhawatiran Resesi Mengguncang Pasar Global


Saham-saham Asia merosot tajam pada pembukaan perdagangan seiring Gedung Putih tetap melanjutkan rencana penerapan tarif besar-besaran terhadap berbagai mitra dagang, termasuk bea masuk 104% untuk produk asal Tiongkok. Langkah agresif ini langsung menekan selera risiko investor, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali melanjutkan kenaikannya. Di Australia dan Jepang, indeks saham jatuh signifikan, sementara kontrak berjangka S&P 500 anjlok lebih dari 1,8%, mencerminkan tekanan global yang semakin dalam.

Di pasar mata uang dan komoditas, dolar AS melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama dan harga minyak melanjutkan penurunan tajamnya. Yuan offshore sempat menyentuh titik terendah sejak pertama kali diperdagangkan pada 2010 sebelum akhirnya rebound. Di sisi lain, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun memperpanjang reli kenaikannya, menegaskan ekspektasi investor bahwa gejolak lintas aset ini belum menunjukkan tanda mereda.

Perang dagang yang kembali memanas memicu kekhawatiran mendalam mengenai risiko resesi global. Investor di seluruh dunia kini dihadapkan pada ketidakpastian tinggi, bertanya-tanya apakah tarif AS yang semakin meluas dapat memicu kerusakan struktural dalam sistem keuangan global. Gejolak volatilitas lintas kelas aset memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempercepat pemangkasan suku bunga demi menahan ekonomi AS dari ancaman resesi, bahkan ketika inflasi masih menjadi momok yang belum tertangani sepenuhnya.

Tomo Kinoshita, global market strategist di Invesco Asset Management, menegaskan bahwa eskalasi perang tarif antara AS dan Tiongkok “mengguncang kepercayaan investor secara global.” Ketidakpastian mengenai potensi aksi balasan dari kedua negara menambah tekanan psikologis di pasar, menciptakan “awan gelap” di benak para pelaku pasar yang semakin sulit memperkirakan arah kebijakan berikutnya.

Wall Street memainkan drama volatilitas yang intens pada Selasa malam, dengan S&P 500 berakhir turun 1,6% dan berada di ambang pasar bearish. Indeks acuan AS ini sebelumnya sempat reli terbesar sejak 2022 sebelum kembali jatuh—menandakan betapa rapuhnya sentimen pasar saat ini. Dalam pergerakan dini hari di Asia, kurva imbal hasil Treasury AS semakin curam, dengan obligasi tenor dua tahun menguat lebih cepat dibanding obligasi jangka panjang, di tengah taruhan bahwa The Fed akan mempercepat langkah pemangkasan suku bunga.

Tekanan juga terlihat di pasar regional: indeks saham Jepang anjlok 2,6%, sementara dolar Selandia Baru turun di bawah 55 sen AS—level terendah sejak Maret 2020. Menurut Que Nguyen dari Research Affiliates LLC, volatilitas ekstrem ini mencerminkan kondisi baru di mana “tak ada yang benar-benar tahu aturan main atau tujuan akhir yang ingin dicapai.” Ia menambahkan bahwa hingga pasar menyesuaikan ekspektasinya atau pemerintah memberikan kejelasan tujuan, fluktuasi ekstrem antara harapan dan ketakutan akan terus mendominasi.

Gedung Putih menegaskan bahwa tarif baru terhadap Tiongkok hingga 104% akan tetap diberlakukan setelah lewat tengah malam waktu New York. Sementara itu, Premier Li Qiang menyatakan bahwa Tiongkok memiliki instrumen kebijakan yang cukup untuk “sepenuhnya mengimbangi” guncangan eksternal. Di AS, kejatuhan pada Selasa membuat total penurunan S&P 500 sejak pengumuman tarif global pekan lalu mencapai lebih dari 12%. Pada satu titik, indeks ini bahkan sempat turun 20% dari rekor penutupan Februari sebelum memantul kembali. Aktivitas perdagangan juga mencapai volume luar biasa, dengan lebih dari 23 miliar saham berpindah tangan dalam satu hari.

Trump dikabarkan terus melangkah maju dengan kenaikan tarif pada sekitar 60 mitra dagang yang ia sebut sebagai “pelanggar terburuk.” Upaya untuk mengamankan kesepakatan menit-menit terakhir dilakukan dengan sejumlah sekutu utama AS, namun harapan terbentuknya kompromi cepat dengan Tiongkok semakin menipis. Sentimen global kini berada pada titik paling rapuh dalam beberapa bulan terakhir, dengan pasar menantikan perkembangan selanjutnya yang dapat menentukan arah ekonomi dunia ke depan.


Source: Bloomberg 

Komentar

Postingan populer dari blog ini