Gubernur BOJ Ueda Hindari Sinyal Jelas Soal Peluang Kenaikan Suku Bunga Januari

Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, kembali menahan diri untuk tidak memberikan sinyal tegas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Januari mendatang. Dalam pidatonya di konferensi bisnis di Tokyo pada Rabu, Ueda menegaskan bahwa keputusan penyesuaian kebijakan moneter akan bergantung sepenuhnya pada perkembangan ekonomi, harga, dan kondisi keuangan dalam beberapa bulan ke depan — pernyataan yang langsung menekan nilai tukar yen terhadap dolar AS.

“Waktu dan laju penyesuaian tingkat pelonggaran moneter akan ditentukan oleh perkembangan aktivitas ekonomi dan harga, serta kondisi keuangan ke depan,” ujar Ueda. “Bank perlu memperhatikan berbagai faktor risiko, baik domestik maupun global, untuk menilai bagaimana faktor-faktor tersebut memengaruhi prospek ekonomi dan inflasi Jepang,” tambahnya.

Pernyataan ini muncul setelah pekan lalu Ueda memberi indikasi bahwa BOJ mungkin menunda kenaikan suku bunga lebih lama dari perkiraan, langkah yang mengejutkan para investor yang semula berharap kebijakan baru akan diambil pada Januari jika tidak dilakukan pada pertemuan Desember. Sikap dovish yang tak terduga itu memicu pelemahan yen dan membuat Kementerian Keuangan Jepang memperingatkan terhadap pergerakan spekulatif di pasar valuta asing.

Ueda tampak menjaga semua opsi tetap terbuka. Ia menekankan pentingnya mempertahankan suku bunga rendah guna mendukung pemulihan ekonomi, namun juga memperingatkan risiko jika kebijakan tersebut diterapkan terlalu lama. Setelah pidatonya, yen melemah ke level 157,37 per dolar AS dari posisi awal 157,13, mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga di masa mendatang. Namun, pergerakan ini belum cukup kuat untuk menembus level terendah lima bulan di 157,93, yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.

BOJ saat ini tetap mempertahankan suku bunga acuan di 0,25% setelah pertemuan kebijakan Desember. Dalam pidatonya, Ueda menyebut bahwa bank sentral masih menunggu data tambahan, terutama hasil negosiasi upah tahunan pada musim semi serta perkembangan ekonomi Amerika Serikat. “Bagi ekonomi Jepang, isu utama dalam waktu dekat adalah bagaimana pembicaraan upah antara serikat pekerja dan perusahaan akan berkembang,” ujarnya.

BOJ sebelumnya telah menaikkan suku bunga pada Maret — untuk pertama kalinya dalam 17 tahun — hanya beberapa hari setelah hasil awal negosiasi upah diumumkan. Namun, sebagian ekonom dan pembuat kebijakan kini menilai bahwa Jepang sudah siap untuk kenaikan suku bunga berikutnya. Inflasi yang bertahan di atas target 2% selama lebih dari dua tahun, disertai pemulihan ekonomi yang moderat, memperkuat argumen tersebut. Menurut survei terbaru, sekitar 86% pengamat BOJ menilai kondisi ekonomi sudah cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga.

Naoki Tamura, anggota dewan kebijakan BOJ yang dikenal berpandangan hawkish, pekan lalu menyerukan agar suku bunga dinaikkan lebih cepat. Ia beralasan bahwa kondisi ekonomi saat ini masih sesuai dengan proyeksi BOJ dan terdapat risiko inflasi yang meningkat. Langkah kenaikan suku bunga juga dapat membantu meredakan tekanan pada yen, yang saat ini berada di dekat level yang sebelumnya mendorong intervensi pasar oleh pemerintah Jepang. Sepanjang tahun ini, Tokyo telah menggelontorkan hampir 100 miliar dolar AS untuk menopang nilai tukar yen.

Namun, ketidakpastian politik di dalam negeri menjadi salah satu alasan mengapa BOJ masih berhati-hati. Pemerintahan Perdana Menteri Shigeru Ishiba yang berstatus minoritas tengah berjuang untuk mendapatkan dukungan parlemen atas rencana anggaran tahunan. Dukungan parsial dari partai oposisi membuat posisi politik Ishiba rapuh, sehingga bank sentral memilih menunggu situasi lebih stabil sebelum melakukan langkah agresif.

Berdasarkan data overnight index swap, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Januari sekitar 46%, sementara peluang untuk kenaikan pada Maret meningkat hingga 82%. Pidato ini merupakan penampilan publik terakhir Ueda di tahun 2024, sebelum Dewan BOJ kembali bersidang untuk mengambil keputusan kebijakan moneter berikutnya pada 24 Januari 2025. 

Source: Bloomberg 

Komentar

Postingan populer dari blog ini