Bitcoin, Ethereum, dan XRP Sulit Menguat Meski Minat Institusi Mulai Kembali Pasar kripto global masih menunjukkan keterbatasan ruang kenaikan, meskipun minat institusional mulai kembali secara moderat melalui produk Exchange-Traded Funds (ETF). Bitcoin, Ethereum, dan XRP sama-sama mencatat arus masuk dana, namun pergerakan harga tetap tertahan, mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati di tengah tekanan makroekonomi dan ketidakpastian geopolitik. Bitcoin, sebagai aset kripto terbesar, masih terjebak dalam rentang sempit antara level USD 88.000 hingga USD 90.000. Meski ETF spot Bitcoin mencatat arus masuk bersih sekitar USD 6,84 juta pada hari Senin—menjadi hari positif pertama setelah lima sesi berturut-turut mengalami arus keluar—minat institusional terlihat belum cukup kuat untuk mendorong terjadinya penembusan harga yang signifikan. Secara kumulatif, total arus masuk ETF Bitcoin masih solid di atas USD 56 miliar, dengan total aset bersih mencapai USD 113,5 miliar. N...
Postingan
Menampilkan postingan dari Januari, 2026
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dolar AS Terpuruk Sepekan, Yen Tertekan Jelang Keputusan Bank of Japan Nilai tukar dolar Amerika Serikat mengalami tekanan hebat dan mencatat penurunan mingguan terburuk dalam satu tahun terakhir. Gejolak ini dipicu oleh ketidakpastian kebijakan setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman terkait Greenland, lalu secara tiba-tiba membalikkan sikapnya. Langkah yang tidak konsisten tersebut mengguncang kepercayaan pasar dan mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar, mempercepat arus keluar dari mata uang AS. Indeks dolar tercatat bergerak di kisaran 98,329 setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya, dan kini diperkirakan melemah sekitar 1% sepanjang pekan. Jika terealisasi, ini akan menjadi performa mingguan terburuk sejak Januari 2025. Di sisi lain, euro bertahan di sekitar USD 1,1751, mendekati level tertinggi tiga pekan, sementara pound sterling stabil di kisaran USD 1,3496, mendekati puncak dua pekan. Pergerakan ini mencerminkan melemahnya d...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Nikkei Terpuruk, Saham Jepang Tertekan Tarif dan Volatilitas Yield Pasar saham Jepang dibuka melemah tajam pada perdagangan pagi ini, mencerminkan rapuhnya sentimen investor di tengah kombinasi tekanan global dan domestik. Ancaman tarif baru dari Donald Trump terhadap sekutu Eropa kembali memicu kekhawatiran perang dagang, sementara volatilitas imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam mengambil risiko. Indeks Topix tercatat turun 1,3% ke level 3.580,19 pada pukul 09.12 waktu Tokyo. Sementara itu, indeks Nikkei 225 melemah 1,2% ke posisi 52.339,27. Pelemahan sejak pembukaan menunjukkan tekanan jual yang bersifat luas, bukan hanya terfokus pada sektor atau saham tertentu, menandakan pergeseran pasar ke mode defensif. Menurut Kazunori Tatebe, Chief Strategist Daiwa Asset Management, saham-saham siklikal dan berbeta tinggi menjadi kelompok yang paling rentan dalam kondisi saat ini. Saham-saham ini sangat sensitif terhadap arah indeks dan ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sentimen Risk-On Kembali, Pasar Kripto Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS Pasar kripto pada sesi perdagangan Eropa hari Senin bergerak bervariasi namun cenderung menguat, seiring melemahnya dolar AS dan meningkatnya minat risiko investor global. Pelemahan greenback mendorong pelaku pasar untuk kembali menilai prospek kebijakan suku bunga Amerika Serikat, terutama menjelang rilis data inflasi yang sangat dinantikan pekan ini. Lingkungan likuiditas yang mulai longgar kembali membuka ruang bagi aset berisiko, termasuk kripto, untuk mencatatkan penguatan moderat. Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$90.765 setelah sempat menyentuh puncak intraday di US$92.369. Pergerakan ini mencerminkan euforia singkat yang dengan cepat diikuti oleh sikap hati-hati dari investor. Aksi ambil untung di level tinggi menunjukkan bahwa meskipun sentimen risk-on mulai kembali, pasar belum sepenuhnya yakin untuk mendorong reli agresif tanpa konfirmasi kuat dari faktor fundamental makroekonomi. Ethereum (...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Harga Minyak Naik: Fokus Geopolitik Iran dan Dinamika Venezuela Jadi Pemicu Kenaikan Harga minyak dunia kembali menguat di tengah pasar yang semakin menimbang risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan global. Minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$56–58 per barel, sedangkan Brent berada di sekitar US$60–62 per barel, mencerminkan adanya premium risiko yang terus meningkat akibat ketidakpastian di kawasan Timur Tengah dan Amerika Latin. Kenaikan ini terjadi di tengah volatilitas pasar minyak yang dipicu oleh berbagai faktor eksternal selain fundamental permintaan dan pasokan. ( suara.com ) Salah satu faktor utama yang menguatkan sentimen pasar adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar kembali fokus pada potensi gangguan pasokan dari Iran akibat kondisi politik domestik dan respons internasional atas kebijakan negaranya, yang dapat meningkatkan risiko terhadap jalur pasokan energi global. Meskipun ancaman langsung terhada...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pound Menguat, Dolar Terjepit: GBP/USD Naik ke 1,3480 di Tengah Tekanan Kebijakan The Fed Pasangan mata uang GBP/USD mengawali sesi Asia Jumat dengan penguatan solid ke area 1,3480, bertahan stabil di atas level psikologis 1,3450. Kenaikan ini terjadi seiring kembali melemahnya dolar AS, setelah pasar semakin yakin bahwa peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve masih terbuka lebar sepanjang tahun ini. Sentimen tersebut mendorong arus dana keluar dari dolar dan mengalir ke mata uang utama lainnya, termasuk pound sterling. Tekanan terhadap dolar semakin kuat karena ekspektasi pasar terkait arah kebijakan moneter AS ke depan. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa ketua The Fed berikutnya akan bersikap lebih dovish dan mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif. Persepsi ini menurunkan daya tarik dolar sebagai aset berimbal hasil, terutama ketika dibandingkan dengan mata uang yang didukung oleh kebijakan moneter yang lebih berhati-hati, seperti pound Inggris....